Sabtu, 11 Mei 2013

DECREE of ALLAH

Rosululloh SAW said:"Verily the creation of man in the stomach during the 40 days she was brupa nuthfah (blend between sperm and egg), then as long as it's also a alaqoh (blood clot), then as long as it's also a mudhghah (piece of meat). Thereafter, Allah sent four angels to establish her case: the form of creation, sustenance, charitable, and wretched or happy. Indeed, suppose that someone has done a hell to the point that there is no longer a distance among the hell was it just an inch (so many sins), but 'statutes of Allah His book on the other spoke, then he will do the deeds of Paradise so that he entered into it (so do not go to hell). Conversely, suppose that someone has done deeds of heaven to the extent that there is no more distance among them to heaven but only an inch (so many reward), but "the statutes of Allah in His book of" talking the other, then he will do the deeds Experts hell so that he entered into it (so do not go to heaven). " (HR.Zaid of Wahab ibn 'Abdullah ibn Mas'ud)Ali ibn Abi Tholib tells:
When we sat down with Rosululloh SAW at a time, he made lines on the ground, and said:"No one but have been known to later later in the afterlife, whether in hell or in heaven"They are the companions said: "Does not it make us apathetic (resigned) O Rosululloh?"Rosululloh SAW replied: "No. but, still you do good, because everything will make it easy for purpose in its creation."Rosululloh SAW explains:
"Someone who has done deeds of heaven, but in the" Book of Allah "writing that he is an expert of hell, then before death he will do deeds Experts hell, and he died in such circumstances that he go to hell, but at the "Book of Allah" writing that he is an expert heaven, then died before he will do the deeds of Paradise, and died in that condition that he enter into heaven. "> Buddy therefore we belittle others banned / Swagger our worship because that determine the expert's heaven or hell expert Allah Almighty is not no man or jinn nation.Hopefully this is a material reflection of our lives up to the spirit of parting with our bodies ... Aamiin

ALAM KUBUR

Seorang Mukmin harus menyakini bahwa setiap orang, kecuali para Nabi, akan di datangi oleh Malaikat Munkar dan Nakir di dalam kuburnya guna menanyakan perihal agama yang di anutnya. Saat keduanya datang ke kubur seseorang, dikembalikanlah Roh orang itu ke dalam jasadnya sehingga ia dapat menjawab pertanyaan yang di ajukan kepadanya. Ia juga harus yakin bahwa si mayat mengetahui orang-orang yang datang berziarah ke kuburnya.

Alloh SWT berfirman, "Alloh meneguhkan [iman] orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia akhirat..." (QS.Ibrahim [14]: 27).
dikatakan bahwa yang dimaksud dengan "dalam kehidupan dunia" adalah saat roh keluar dari jasadnya (sakarat), dan "dalam kehidupan akhirat" adalah saat ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir.

Rosululloh SAW bersabda, "Jika salah seorang dari kalian telah dimasukan ke dalam kubur, datanglah dua malaikat yang berwajah hitam lagi membiru menemuinya, yaitu malaikat Munkar dan malaikat Nakir. Keduanya akan bertanya kepadanya, 'Bagaimanakah menurutmu tentang Muhammad SAW?' Jika orang itu adalah orang yang beriman, ia akan menjawab, 'Beliau adalah seorang hamba Alloh dan utusan-NYA. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh, dan Muhammad itu adalah utusan Alloh.' Maka berkatalah kedua malaikat itu, 'Sungguh kami tahu bahwa engkau dulu mengatakan demikian sewaktu di dunia.' Lalu, kubur orang tiu diperluas sebanyak 70 x 70 hasta, dan diterangi dengan cahaya. Setelah itu, dikatakan kepadanya, 'Tidurlah!' Orang itu berkata, 'Berikanlah kesempatan kepadaku untuk kembali kepada keluargaku guna memberitahu mereka tentang nikmat yang aku peroleh ini.' Perkataannya itu dijawab, 'Tidurlah engkau, seperti tidurnya seorang pengantin perempuan yang tidak bisa dibangunkan kecuali oleh kekasihnya, sampai datang waktunya engkau di bangkitkan oleh Alloh SWT.'
Adapun jika ia seorang orang munafik, ketika ditanya ia akan berkata, 'Aku tidak tahu. Aku hanya pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, dan aku pun ikut-ikutan mengatakannya.' Maka berkatalah kedua malaikat itu, 'Kami tahu bahwa kamu mengatakan demikian dulu waktu di dunia.' Lalu, dikatakanlah kepada tanah kuburannya, 'Apitlah orang ini!' Tanah itupun mengapitnya hingga remuk tulang belulangnya. Kemudian ia di siksa sampai Alloh membangkitkannya dari kuburnya." (HR. Abu Hurairah)

Al-Barra' ibn 'Azib menceritakan; Suatu kali, kami keluar bersama Rosululloh SAW mengantar jenazah seseorang dari kaum Anshar. Setelah sampai di kuburan, dan jenazah itupun langsung di masukan ke liang lahat. Waktu Beliau SAW duduk di tepi kubur, kami pun ikut duduk bersamanya. Lalu Beliau memegang sebatang kayu dan membuat sebuah garis di atas tanah dengan kayu tersebut, lantas Beliau SAW berkata, " Aku berlindung kepada Alloh dari siksa kubur." sebanyak tiga kali.

Kemudian Beliau SAW berkata lagi, "Jika orang yang beriman akan meninggalkan dunia ini, datanglah para malaikat kepadanya dengan wajahnya yang putih bagaikan matahari sambil membawa kain kafan dan harum-haruman dari surga. Lalu para malaikat itu duduk di dekatnya. Kemudian datanglah malaikat maut kepadanyadan duduk di dekatnya sambil berkata, 'Wahai jiwa yang tenang dan suci, keluarlah menuju ampunan dari Alloh dan keridhoan-NYA."
Beliau SAW melanjutkan, "Kemudian roh si Mukmin itu mengalir keluar dari jasadnya seperti mengalirnya air dari wadah. Begitu roh itu keluar, para malaikat itu langsung mengambil roh tersebut dan tidak membiarkannya berada di tangan malaikat maut barang sekejabpun. Selanjutnya, roh itu mereka bungkus dengan kain kafan serta menyiramnya dengan wangi-wangian yang sudah mereka siapkan tadi. Maka terciumlah bau harum yang harumnya melebihi minyak kasturi yang pernah ada di muka bumi. Bau harum tersebut tercium oleh malaikat-malaikat langit saat roh itu di bawa naik ke langit. Mereka bertanya, "Wangi apakah ini?' mereka menjawab, 'Wangi Fulan ibn fulan.' Pintu langitpun dibukakan baginya. Para malaikat lainnya menyambut kedatangannya dan menyebarkan berita kedatangannya dari langit yang satu ke langit berikutnya, hingga langit ketujuh. Kemudian Alloh Azza wa Jalla berkata, 'Catatlah buku amalnya dalam kitab 'Iliyyin, lalu kembalikanlah ia ke bumi.'

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikanmu. Kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu, dan darinya lagi Kami akan mengeluarkanmu pada kali yang lain. (QS. Thoha [20]: 55)

Setelah itu, roh itu dikembalikan lagi ke dalam jasadnya, barulah ia di datangi oleh dua malaikat yang akan bertanya kepadanya, 'Siapa Tuhanmu? Apa agamamu?' ia akan mwnjawab, 'Tuhanku adalah Alloh, agamaku adalah islam.' Lalu dua malaikat itu bertanya lagi, 'Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad yang diutus kepadamu?' ia menjawab, 'Beliau adalah utusan Alloh. Beliau datang kepada kami membawa kebenaran.' Kedua malaikat itu bertanya lagi, 'Apa yang mengajarimu tentang hal itu?' ia menjawab, 'aku membaca Al-Qur'an. Aku mempercayai dan membenarkannya.' Maka terdengarlah suara dari langit yang berbunyi, 'Sungguh telah benar hamba-Ku itu. Sediakanlah baginya tempat tidur dari surga, pakaikanlah kepadanya pakaian dari surga, dan bukakan baginya pintu ke surga.'  Maka didatangkanlah semua itu kepadanya, dan diluaskanlah kuburnya seluas pandangannya. Lalu, datanglah seorang laki-laki kepadanya yang elok wajahnya dan wangi aromanya, lalu berkata kepadanya, 'Aku datang membawa berita gembira kepadamu yang akan membahagiakanmu. Ini adalah hari dimana engkau telah dijanjikan tentangnya.' ia bertanya kepada laki0laki itu, 'Siapakah engkau sebenarnya?' ia menjawab, 'Aku adalah amal solehmu.' Maka berkatalah ia, 'Ya Tuhan, segeralah datangkan hari kiamat."

Selanjutnya Rosululloh SAW menceritakan keadaan hamba yang kafir ketika akan meninggalkan dunia. Beliau SAW bersabda, "Alloh mengutus beberapa malaikat yang berwajah hitam kepadanya sambil membawa seutas tali. Kemudian mereka duduk sejauh pandangan mata darinya. Selanjutnya, datanglah malaikat maut seraya berkata, 'wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju murka dan kemarahan Alloh.' Kemudian malaikat maut itu mencabut nyawanya seperti mencabut duri kain wol yang basah, sehingga putuslah semua urat syarafnya.
Setelah keluar, roh itu langsung diambil oleh para malaikat utusan Alloh tadi, lalu mereka mengikatnya sengan tali yang mereka bawa. Darinya keluar bau busuk seperti bau bangkai. Kemudian mereka membawanya naik ke langit, dan setiap kali mereka melewati sekumpulan malaikat lainnya, mereka bertanya, ' Bau busuk apakah ini?' Dijawab, 'Bau busuk Fulan ibn fulan ini.' Ketika mereka sampai di langit, tidak ada malaikat yang mau membukakan pintu untuknya.Lalu, Alloh SWT berkata, 'Tulislah catatan amalnya dalam kitab Sijjin.' Lalu roh itu dilemparkan sekuat-kuatnya.

"...sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit." (QS. Al-A'raf [7]: 40)
"Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS. Al-Hajj [22]: 31)

Setalah itu, roh itu dikembalikan lagi ke jasadnya.Setelah kembali lagi ke jasadnya, barulah ia didatangi oleh dua malaikat yang akan bertanya kepadanya, 'Siapa Tuhanmu?' ia akan menjawab, 'Haah, haah. Aku tidak tahu.' Dua malaikat bertanya lagi, 'Apa agamamu?' ia menjawab, 'Haah, haah. Aku tidak tahu.' Mereka bertanya lagi, 'Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad yang diutus kepadamu?' ia menjawab, 'Haah, haah. Aku tidak tau.' Maka terdengarlah sebuah suara dari langit yang berbunyi , 'Sungguh telah dusta hamba-Ku itu. Siapkanlah baginya tempat tidur dari neraka, dan pakaikan kepadanya pakaian dari neraka, serta bukakan baginya pintu ke neraka!' Maka didatangkanlah kepadanya semua itu, serta disempitkan kuburnya hingga remuk tulang belulangnya. Lalu, datanglah seorang laki-laki kepadanya dengan wajah yang amat buruk dan berbau busuk, seraya berkata, 'Aku membawa berita buruk kepadamu yang akan membuatmu sedih. Inilah hari hari yang telah dijanjikan kepadamu.' Si hamba yang kafir itu bertanya kepadanya, 'Siapakah engkau sebenarnya?' ia menjawab, 'Aku adalah amal burukmu.' Maka berkatalah si kafir itu, 'Ya Tuhan, janganlah Engkau datangkan hari kiamat."

Kamis, 09 Mei 2013

Umat Nabi Muhammad SAW adalah Umat Terbaik

Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang terbaik dari sekalian umat. Dan orang-orang terbaik dari umat Nabi Muhammad SAW itu adalah mereka yang hidup semasa dengan Beliau, berdampingan dan bergaul dengan Beliau, membenarkannya, menyatakan janji setia kepada Beliau, mengikuti jejakNya, ikut berjihad (berperang) bersamaNya, mengorbankan jiwa dan harta mereka, membela dan mendukungNya. Lebih terbaik lagi adalah orang-orang yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah, yaitu orang-orang yang ikut mem-bai'at (menyatakan janji setia) kepada Beliau SAW pada waktu itu yang berjumlah sebanyak 1.400 orang. Dari yang 1.400 orang ini, yang terbaiknya adalah mereka yang ikut berperang dalam perang Badar yang jumlahnya 313, sama dengan jumlah pasukan Thalut. Dari 313 orang ini, yang terbaik adalah mereka yang ikut dalam perhelatan Dar al-Khaizuran yang jumlahnya adalah sebanyak 40 orang. Dari yang 40 orang ini, yang terbaiknya adalah sebanyak 10 orang yang telah dijamin oleh Rosululloh SAW masuk surga, mereka itu adalah Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad, Sa'id, dan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah. Dan yang terbaik dari 10 sahabat ini adalah sebanyak empat orang yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Mereka inilah yang disebut dengan al-Khulafa'ar Rosyidin (Khalifah-khalifah pilihan) yang jumlah masa kepemimpinan mereka sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah tiga puluh tahun.

Umat Islam berkewajiban menahan diri dari membicarakan atau mengorek perselisihan yang pernah terjadi antara sesama sahabat. Alih-alih membicarakan perselisihan antara mereka, kita harus menonjolkan keutamaan dan kemulian mereka. Adapun perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka, diserahkan saja urusannya kepada Alloh SWT.

Dan orang-orang yang datang sesudah kaum Muhajirin dan Anshar mereka berdo'a, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian (bersemi) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang." (QS. al-Hasyr [59]: 10)

Keutamaan Taat kepada Alloh SWT dan Rosululloh Muhammad SAW

 Buah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam

Orang yang senantiasa istiqamah di atas ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya akan meraih sekian banyak kebaikan. Satu kebaikan saling berkaitan dengan kebaikan yang lainnya. Di antara kebaikan-kebaikan tersebut adalah:

1. Mendapatkan limpahan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),

“Dan taatilah Allah dan Rasul, pasti kalian diberi rahmat.” (QS. Ali-‘Imran: 132)

“Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan salah satu sebab diraihnya rahmat (kasih sayang) Allah.”

Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala merupakan kunci utama bagi seseorang untuk merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

2. Mendapatkan hidayah

Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Tentu, orang yang dirahmati oleh-Nya sajalah yang akan mendapatkan anugerah besar ini. Mereka itulah yang senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam ayat-Nya (artinya),

“Dan jika kalian taat kepadanya (Nabi Muhammad), niscaya kalian mendapat hidayah (petunjuk).” (QS. An-Nur: 54)

Yaitu hidayah (petunjuk) menuju ash-Shirath al-Mustaqim (jalan yang lurus), baik (petunjuk untuk) berkata maupun beramal. Tidak ada jalan bagi kalian untuk mendapatkan hidayah kecuali dengan menaati beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak mungkin bahkan mustahil untuk mendapatkan hidayah. (Lihat Taisir al-Karimir Rahman).

3. Meraih kemenangan besar

Sebagaimana di dalam firman-Nya (artinya),

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab: 71)

Kemenangan yang besar ialah dengan dimasukkan ke dalam al-Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi. Allah subhanahu wa ta’ala sediakan al-Jannah bagi orang-orang yang menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam al-Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa’: 13)

4. Dikumpulkan bersama para nabi, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin

Al-Jannah itu bertingkat-tingkat. Penduduknya akan menempati tingkatan al-Jannah sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaannya. Semakin tinggi dan sempurna keimanan serta ketakwaan seorang hamba, semakin tinggi pula tingkatan al-Jannah yang akan dia tempati.

Sudah pasti bahwa tingkatan al-Jannah yang paling tinggi ditempati oleh hamba-hamba-Nya yang paling mulia. Mereka itulah para Nabi, para shiddiqin (orang-orang yang sempurna pembenaran dan keimanan mereka terhadap syariat yang dibawa oleh Nabi), para syuhada’, dan orang-orang shalih. Bersama merekalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan dikumpulkan di al-Jannah nanti. Hal ini sebagaimana firman-Nya (artinya),

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’: 69)

Para pembaca rahimakumullah. Ayat ini juga mengingatkan kita akan do’a yang senantiasa kita panjatkan ketika membaca surah al-Fatihah (artinya),

“Tunjukilah kami ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus). (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim) adalah jalannya orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah. Siapakah mereka itu? Pembaca bisa lihat dalam surah an-Nisa’ di atas, yaitu jalannya para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang soleh.

Siang dan malam senantiasa kita panjatkan doa tersebut dalam shalat kita. Sehingga agar doa kita tersebut dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk selalu menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh sisi kehidupan kita, baik dalam hal aqidah, ibadah, mu’amalah, maupun akhlak. Semoga Allah menjauhkan kita dari golongan yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Dan barang siapa yang bermaksiat (tidak taat) kepadaku, maka dialah orang yang enggan (yakni enggan masuk al-Jannah, pen.).”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya),

“Dan barang siapa bermaksiat (mendurhakai) Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam an-Nar, sedang dia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’: 14)





"Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Barangsiapa yang shalat Isya berjama’ah, maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya." (HR. Muslim)

MENELADANI CARA MAKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM

MENELADANI CARA MAKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM


1. Ibnul Qayyim berkata: Barangsiapa yang memperhatikan makanan yang dikonsumsi Nabi, niscaya ia mengerti bahwa beliau tidak pernah memadukan menu antara SUSU dengan IKAN, atau antara SUSU dengan CUKA, atau antara DUA MAKANAN yang sama-sama MENGANDUNG UNSUR PANAS, UNSUR DINGIN, UNSUR LENGKET, UNSUR PENYEBAB SEMBELIT, UNSUR PENYEBAB MENCRET, UNSUR KERAS, atau DUA MAKANAN yang mengandung UNSUR KONTRADIKTIF, misalnya antara MAKANAN YANG MENGANDUNG UNSUR PENYEBAB SEMBELIT DENGAN YANG MENGANDUNG PENYEBAB MENCRET, ANTARA YANG MUDAH DICERNA DENGAN YANG SULIT DICERNA, ANTARA YANG DIBAKAR DENGAN YANG DIREBUS, ANTARA DAGING YANG SEGAR, DENGAN YANG SUDAH DIGARAMI DAN DIKERINGKAN, ANTARA SUSU DENGAN TELUR, DAN ANTARA DAGING DENGAN SUSU. Beliau tidak pernah makan pada saat makanan tersebut masih sangat panas atau masakan yang dihangatkan untuk besok, makanan-makanan yang bulukan (berjamur) dan asin, seperti makanan-makanan yang DIASINKAN, DIASAMKAN, atau DIHANGUSKAN. Semua makanan ini berbahaya dan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan.

2. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam biasa melawan unsur panas pada makanan dengan unsur dingin pada makanan lain, unsur kering suatu makanan dengan unsur basah pada makanan lain, sebagaimana beliau memakan mentimun dengan ruthob (kurma matang yang belum dikeringkan), makan tamr (kurma kering) dengan minyak samin, meminum ekstrak kurma untuk melunakkan chymus (Materi semi cair, homogen, berkrim atau seperti gruel yang dihasilkan oleh pencernaan makanan oleh lambung) makanan-makanan keras. Itulah intisari makanan sehat.

3. Beliau tidak biasa minum ketika sedang makan, sehingga akan merusaknya, apalagi jika air tersebut panas atau dingin, karena itu pola makan yang buruk sekali.

4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, "Rasulullah tidak pernah mencela makanan sedikitpun, jika suka, beliau memakannya, jika tidak dibiarkannya, tidak memakannya." (HR. Bukhari : 5409, dan Muslim : 2064)

5. Beliau menyukai daging, yang paling beliau sukai adalah lengan dan bagian depan kepala kambing. Karena itu, seorang wanita Yahudi pernah meracuninya.

6. Pernah suatu ketika Rasulullah diberi daging, lantas diperlihatkan bagian lengan kepada beliau, maka beliau menyukainya. (HR. Bukhari : 5712, dan Muslim : 194)

7. Daging yang disukai Nabi adalah yang paling baik dan paling mudah dicerna oleh lambung, baik itu daging leher, lengan maupun lengan atas.

8. Beliau juga menyukai makanan-makanan manis dan madu. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu anh, ia berkata, "Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam menyukai makanan-makanan manis dan madu." (Shahihul Bukhari : 5614).

9. Beliau biasa makan roti dengan lauk apa saja yang beliau punya, kadang daging, kadang semangka, kadang kurma, dan kadang cuka. Beliau bersabda, "Sebaik-baik lauk adalah cuka." (Shahih Muslim : 2052).

10. Beliau biasa makan buah-buahan hasil panen negerinya pada musimnya, beliau tidak memantangnya. Ini juga merupakan sarana paling besar untuk menjaga kesehatan.

11. Rasulullah bersabda : "Aku tidak makan sambil bersandar." (Shahihul Bukhari : 5398)
Ada tiga cara bersandar:
a. Bersandar pada rusuk.
b. Bersila.
c. Bersandar diatas sesuatu.
Jenis pertama menyulitkan makan, karena ia menghalangi aliran makanan secara alami, menghambat kecepatan masuknya makanan ke lambung, dan menekan lambung sehingga sulit terbuka untuk makanan. Lambung akan miring, tidak tegak, sehingga makanan tidak mudah sampai kepadanya. Adapun dua jenis lainnya merupakan gaya duduk orang-orang sombong yang bertentangan dengan jiwa kehambaan.

12. Dalam hadits Anas disebutkan, "Saya melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam duduk dengan posisi iq'a sambil memakan kurma." (Shahih Muslim : 2044) Beliau biasa duduk dengan posisi iq'a untuk makan, maksudnya duduk dalam posisi bertumpu pada kedua lutu, seraya memposisikan perut telapak kaki kanan, sebagai bentuk ketawadhuan kepada Rabbnya. Ini merupakan posisi paling baik pada saat makan.

13. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda : "Jika salah seorang dari kalian makan, maka janganlah ia membersihkan tangannya sebelum menjilatinya." (Muttafaqun ‘Alaih, Bukhari : 5376, dan Muslim : 2031).

14. Beliau makan dengan menggunakan tiga jemari beliau, dan ini merupakan cara menyuap makanan yang paling bermanfaat.

15. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : "Wahai anak kecil! Sebutlah nama Allah (BISMILLAH), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang terdekat darimu." (Muttafaqun ‘Alaih, Bukhari : 5376, dan Muslim : 2022). (sen)

Ketetapan Alloh Azza wa Jalla

Rosululloh SAW bersabda :

" Sesungguhnya proses penciptaan manusia dalam perut ibunya adalah selama 40 hari brupa nuthfah (paduan antara sperma dan sel telur), kemudian selama itu juga berupa alaqoh(segumpal darah), kemudian selama itu juga berupa mudhghah(segumpal daging). Setelah itu, Alloh mengutus malaikat untuk menetapkan empat perkara baginya : bentuk penciptaannya, rezekinya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Sungguh, andaikan seseorang telah melakukan neraka sampai-sampai tidak ada jarak lagi antaranya dengan neraka itu melainkan hanya sejengkal (saking banyaknya dosa), namun 'ketetapan Alloh di dalam kitab-NYA berbicara lain, maka ia akan melakukan amalan ahli surga sehingga ia pun masuk ke dalamnya (tidak jadi masuk neraka). Sebaliknya, andaikan seseorang telah melakukan amalan surga sampai-sampai tidak ada lagi jarak antaranya dengan surga itu melainkan hanya sejengkal (saking banyaknya pahalanya), namun "ketetapan Alloh dalam kitab-NYA" berbicara lain, maka ia akan melakukan amalan ahli neraka sehingga ia pun masuk ke dalamnya (tidak jadi masuk surga)." (HR.Zaid ibn Wahab dari 'Abdullah ibn Mas'ud)

Ali ibn Abi Tholib menceritakan :


Ketika kami duduk-duduk bersama Rosululloh SAW pada suatu kali, Beliau membuat garis-garis di atas tanah, lalu berkata :
" Tiada seorangpun kecuali telah diketahui nanti nanti di akhirat, apakah di neraka atau di surga"

Mereka para sahabat berkata : " Tidakkah hal itu membuat kita apatis (pasrah) wahai Rosululloh?"

Rosululloh SAW menjawab : "Tidak. akan tetapi, tetaplah kalian beramal, sebab segala sesuatu akan di mudahkan untuk tujuan penciptaannya."

Rosululloh SAW menjelaskan :


" Seseorang yang telah melakukan amalan surga, namun di dalam "Kitab Alloh" tertulis bahwa ia adalah ahli neraka, maka menjelang meninggal dunia ia akan melakukan amalan ahli neraka, lalu ia mati dalam keadaan demikian sehingga ia pun masuk ke dalam neraka, namun di dalam "kitab Alloh" tertulis bahwa ia adalah ahli surga, maka menjelang meninggal dunia ia akan melakukan amalan ahli surga, lalu mati dalam keadaan demikian sehingga ia pun masuk ke dalam surga itu."

> Sobat oleh karena itu kita di larang meremehkan orang lain/menyombongkan ibadah kita karena yang menentukan ahli surga atau ahli neraka itu Alloh Azza wa Jalla bukan bukan bangsa manusia atau bangsa jin.
Semoga ini menjadi bahan renungan dalam hidup kita sampai ruh berpisah dengan raga kita...Aamiin